FISIP UNMER, 22 April 2026, 08:30 WIB
Komunikasi dengan siswa pra-sekolah lebih menantang dibandingkan dengan siswa sekolah dasar maupun menengah.

MALANG – Komunikasi dengan siswa pra-sekolah lebih menantang dibandingkan dengan siswa sekolah dasar maupun menengah. Guru pra-sekolah menghadapi kompleksitas yang lebih tinggi karena peserta didik berada pada fase awal perkembangan mental, psikologis, dan fisik yang masih rentan dan belum stabil.
Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam membangun emotional engagement dengan peserta didik melalui sikap penuh kasih, ketabahan, dan kepedulian yang tulus.
Advertisement
—
Komunikasi pada tahap ini merupakan praksis hati yang menuntut passion dan keikhlasan, bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan juga komitmen moral dan emosional dalam membimbing anak pada masa pertumbuhan awalnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Sri Widayati, S.Pd., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Merdeka Malang, saat membuka pelatihan komunikasi efektif untuk pendidikan dalam kegiatan community service di Universiti Antara Bangsa MAIWP (UniMAIWP), Kuala Lumpur, pada 13 April 2026. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama akademik antara FISIP Universitas Merdeka Malang dan Fakultas Pendidikan UniMAIWP.
—
“Untuk membangun emotional engagement dengan siswa pra-sekolah, guru perlu berkomunikasi dengan bahasa yang sederhana dan hangat, disertai ekspresi wajah yang ramah serta kontak mata yang penuh perhatian,” tegasnya. Ia menambahkan, kedekatan emosional juga dapat diperkuat dengan posisi tubuh yang sejajar dengan anak, kemampuan memvalidasi perasaan mereka, serta respons yang sabar dan konsisten terhadap perilaku siswa.
Sementara itu, narasumber lain, Irma Mufita Y., S.I.Kom., M.IKom., menekankan bahwa komunikasi dalam pendidikan anak usia dini harus berlandaskan nilai respect (penghargaan) dan empati, selain audible (dapat didengar dengan jelas) dan clarity (kejelasan pesan), sehingga mampu membangun relasi yang hangat dengan anak.
—
Respect tercermin dalam sikap guru yang menghargai setiap anak sebagai individu yang unik, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, tidak meremehkan, dan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri. Adapun empati, tambahnya, tampak dalam kemampuan guru memahami perasaan dan sudut pandang anak, misalnya dengan mengenali emosi mereka dan merespons secara penuh kepedulian. (*)
—
Sumber: TIMES INDONESIA




